Bahasa Arab (Struktur Kalimat)

KERAGAMAN STRUKTUR KALIMAT
DAN PENGARUHNYA TERHADAP MAKNA

Pendahuluan:
Sebagaimana dimaklumi bahwa setiap bahasa mempunyai sistem tersendiri yang mungkin berbeda dari satu bahasa ke bahasa yang lain Bahasa Arab mempunyai sistem tersendiri dalam merangkai kata-katanya. Sistem ini akan lebih mudah dikaji, manakala diperbandingkan dengan bahasa yang sudah dikenal. Karena itulah maka kajian ini, akan sedapat mungkin, memperbandingkan dngan struktur bahasa Indonesia. Pengenalan struktur kalimat ini penting untuk memahami gagasan yang terkandung dalam kalimat tersebut.Dalam bahasa Arab ada dua pola kalimat dasar, yaitu : Pertama, jumlah (kalimat) ismiyyah dan kedua jumlah fi’liyyah.
1.Jumlah Ismiyyah
Jumlah Ismiyyah terdiri dari mubtada’ sebagai pokok kalimat yang umumnya berupa kata benda ( isim ) dan khabar , bisa berupa isim, fi’il (jumlah fi’liyyah) , jumlah ismiyyah atau syibh al-jumlah , yakni jar majrur atau zarf sebagai penjelas mubtada’ .
Contoh Jumlah Ismiyyah
1-حسان مدرس ؛ هو عالم
2-حسان يدرس اللغة العربية
3- حسان في البيت ؛ هو أمام التلفزيون
Struktur Jumlah Ismiyyah tidak selalu diawali oleh mubtada’ , bahkan jika mubtada’ tidak berupa isim ma’rifat maka jumlah tersebut pada umumnya diawali oleh khabar , yaitu jika mubtada’ nya berupa isim nakirah dan khabarnya berupa jar majrur atau zarf. Misalnya :
1- في المسجد مسلمون ؛ على المنبر خطيب
Di dalam masjid ada orang-orang Islam : di atas mimbar ada seorang khatib
2- في البيت ضيوف ؛ في الغرفة أولاد
Di rumah ada tamu-tamu : Di dalam kamar ada anak-anak
3- أمام مكتب البريد شارع : وراء المسجد مزرعة
Di depan kantor pos ada jalan : Di belakang masjid ada sawah
4- فوق المكتب مصباح : تحت الشجرة غنم
Di atas meja ada sebuah lampu : Di bawah pohon ada seekor kambing
Jika mubtada ‘ yang nakirah di atas dirubah menjadi ma’rifah maka sttrukturnya bisa dikembalikan ke struktur semula yakni mubtada’ – khabar, tetapi boleh juga masih tetap khabar-mubtada’. Jadi boleh : المسلمون في المسجد atau في المسجد المسلمون .Perbedaan kalimat yang terakhir ini dengan kalimat في المسجدد مسلمون adalah perbedaan antara makna isim ma’rifah dan isim nakirah, yakni pengertian yang sudah tertentu dan yang belum tertentu. Adapun perbedaan antara kalimat المسلمون في المسجد dengan kalimat في المسجد المسلمون adalah pada gagasan yang ingin ditekankan. Yang pertama lebih menekankan sebuah gagasan yang berupa “orang-orang Islam”, yang kedua lebih menekankan gagasan yang berupa “di dalam masjid”.
2.Jumlah Fi’liyyah
Jumlah fi’liyyah adalah kalimat yang diawali dengan kata kerja, baik berupa fi’il madli mudlari’ maupun fi’il amar, misalnya :
1- قرأ فريد الكتاب قبل الذهاب إلى الجامعة
Farid telah membaca buku sebelum berangkat ke kampus
2- يدرس حسان العربية مرتين في كل أسبوع
Hassan mengajar bahasa Arab dua kali setiap minggu
3- خاِلقِ الناس بخلق حسن
Bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik
Di samping dua jumlah di atas sebagai unsur pokok dalam sebuah kalimat, ada satu bentuk lagi yang disebut dengan syibh jumlah terdiri dari : a) jar majur yaitu setiap kata yang diawali dengan salah satu huruf jarmisalnya, misalnya : في المدرسة ؛ من المكتبة dan b) zarf, yaitu setiap kata yang diawali dengan zarf misalnya :أمام الجامعة ؛ وراء المسجد .
Di samping unsur pokok yang sering juga disebut ma’mul ‘umdah, ada juga unsur-unsur penunjang , sering disebut ma’mul fudllah, yang dapat menambah informasi yang terkandung dalam sebuah kalimat. Semakin banyak unsur penunjang maka semakin jelas pula informasi yang diberikan oleh kalimat tersebut. Secara garis besar, unsur-unsur penunjang tersebut terdiri dari:
1-Maf’ul bih, misalnya :
1-يجب على كل الطالب أن يكتب البحث لأجل إتمام دراسته في الجامعة
Setiap mahasiswa harus menulis skripsi untuk menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi.
2-سمعت الأذان في المسجد
Saya mendengar azan di masjid
3-حصل أحمد على شهادة الدكتوراه في الشهر الماضي
Ahmad memperoleh ijazah Doktor bulan lalu.
Kata-kata yang digaris bawah dalam contoh-contoh di atas adalah maf’ul bih. Pada prinsipnya kata kerja yang mempunyai maf’ul bih adalah kata kerja yang muta’addi atau transitif. Kata kerja ini ada dua macam: ada yang muta’addi langsung, yakni tanpa huruf jar , dan ada yang muta’addi tidak langsung, yakni melalui huruf jar. Kata kerja dalam contoh nomor terakhir adalah muta’addi tidak langsung dengan menggunakan huruf jar على . Kata kerja intransitif (lazim ) bisa dirubah menjadi transitif ( muta’addi ) dengan salah satu dari tiga cara, yaitu: dengan mengikutkan pada wazan أفعل ؛ فعّل atau dengan menambah huruf jar tertentu. Tetapi yang terakhir bersifat sama’i artinya kita hanya mengikuti yang sudah ada, dalam hal kombinasi kata kerja tertentu dan huruf jar tertentu.
2-Maf’ul mutlaq, misalnya :
1-أرجو مساعدتك رجاء
Saya sangat mengharap bantuanmu
2-تطورت بلادنا بعد الاستقلال تطورا كبيرا
Negara kita berkembang setelah merdeka secara pesat .
2- ضرب الجندي العدو خمس ضربات
Tentara itu memukul musuh lima pukulan
3- تطورت بلاد نا بعد الاستقلال سريعا (تطورا سريعا)
Negeri kita berkembang setelah merdeka secara cepat
4- نؤيد إقامة العدل في هذه البلاد كل التأييد
Kami mendukung penegakan keadilan di negeri ini secara penuh
5- هو يعرفني حق المعرفة
Dia tahu betul tentang saya
6- حمدا لله (نحمد الله حمدا)
Segala puji sungguh-sungguh bagi Allah
7- شكرا (نشكرك شكرا)
Sungguh-sungguh terima kasih
Maf’ul mutlaq digunakan untuk maksud :
• ta’kid (memperkuat pernyataan),
• bayan nau’ (penjelasan macam atau kualitas suatu perbuatan) dan
• bayan ‘adad al-fi’li (penjelasan frekuensi perbuatan).
• Terkadang yang disebutkan hanya sifat dari maf’ul mutlaqnya saja, sementara maf’ul mutlanya sendiri tidak disebutkan, seperti pada contoh nomor 4, dan terkadang juga maf’ul mutlaq disebutkan secara tersendiri, tanpa ada fi’il maupun fa’ilnya, seperti dua contoh yang terakhir, nomor 7 dan 8.
3-Maf’ul liajlih, yakni kata yang menjelaskan sebab dilakukannya sebuah perbuatan, biasanya kata tersebut dalam bentuk mashdar dan berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan hati (af’al al-qulub ), yakni kata kerja yang berkaitan dengan hati, seperti yang bermakna takut, ingin, mengharap dan sebagainya, contoh:
1-سيطرت الولايات المتحدة على العراق رغبة في الهيمنة على دول الشرق الاوسط
1-Amerika Serikat menguasai Irak karena ingin menghegemoni negara-negara Timur Tengah
2-اجتهد الطالب في دراسته طول الليل خوفا من الفشل في الامتحان
2-Mahaiswa itu giat belajar sepanjang malam karena takut gagal dalam ujian.
4-Maf’ul ma’ah, yakni kata yang terletak setelah wawu maiyyah yang maknanya “dengan” dan tidak bisa dimaknai sebagai wawu ‘ataf dalam kalimat ersebut, misalnya:
1-انطلقت القافلة وغروب الشمس
Kafilah itu berangkat bersamaan dengan terbenamnya matahari
2-لا تعمل أعمالا تتنافى وتعاليم الإسلام
Jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam
5-Maf’ul fih, yakni kata yang menjelaskan kapan atau di mana perbuatan itu dillakukan, misalnya:
قرأ المسلمون القرآن ليلا
Orang-orang muslim membaca al-Qur’an di waktu malam
يلعب الأولاد كرة القدم أمام المدرسة
Anak-anak bermain sepak bola di depan sekolah
6-Hal, yaitu kata atau kalimat yang menjelaskan keadaan pelaku atau objek ketika suatu perbuatan sebagaimana yang dinyatakan dalam kata kerja itu dilakukan, misalnya :.
يأتي الضيوف إلى منزلي راكبي السيارةِ (أو راكبين السيارةَ)
Para tamu datang ke rumahku naik mobil
كل جالسا ولا تأكل ماشيا
Makanlah sambil duduk jangan makan sambil berjalan
أكتب إليك وأنا أسأل الله أن يمن عليك بالصحة
Saya menulis surat kepadamu seraya mohon kepada Allah mudah-mudahan memberimu kesehatan
شاهدت الناس يهربون من الحريق
Saya menyaksikan orang-orang lari dari kebakaran
جلس الرجل الذي مات أبوه في الحرب باكيا حزينا تتألق العبرات في عينيه
Orang yang ayahnya mati dalam peperangan itu duduk seraya menangis sedih berlinangan air mata
7- Tamyiz , yakni keterangan erhadap sesuatu masalah yang samar berkaitan dengan benda. Bedanya dengan hal adalah bahwa yang terakhir ini berkaitan dengan keadaan, sementara tamyiz berkaitan dengan benda, baik benda kongkrit maupun abstrak, seperti:
اشتريت مترا قماشا
Saya membeli satu meter kain
السنة إثنا عشر شهرا
Satu tahun ada dua belas bulan
الشهر ثلاثون يوما
Satu bulan ada tigapuluh hari
اليوم أربع وعشرون ساعة
Satu hari ada duapuluh emp at jam
8-tawabi’ yang terdiri dari : na’at, ‘ataf’ taukid dan badal
النعت :
طلب العلم أمر مهم يهمله كثير من الناس
Menuntut ilmu adalah hal penting yang diabaikan banyak orang.
Dalam contoh di atas, ada dua bentuk naat : yang pertama naat mufrad yaitu kata muhimm, dan yang kedua adalah naat jumlah yaitu kata yuhmiluh katsir min an-nas. Kalimat ( jumlah ) ini terletak setelah dan sekaligus menjelaskan isim nakirah yaitu muhimm. Sementara kata muhimm bukan berupa kalimat ( jumlah ) maka ketika kata tersebut menjadi sifat bagi kata sebelumnya yakni amr , kata tersebut disebut na’at mufrad (pengertian mufrad di sini adalah bukan kalimat atau jumlah )
اشترى عمي البيت القديم الذي كنت أسكن فيه في الثمانينات
Pamanku membeli rumah lama yang dulu pada tahun delapan puluhan saya tinggal di situ.
لا بد لك من اختيار الأصدقاء الطيبة أخلاقهم
Kamu mesti memilih teman-teman yang baik akhlaknya.
Contoh yang terakhir di aas disebut na’at sababi yakni kata at-tayyibah. Cirinya adalah bahwa na’at tersebut mempunyai fa’il dalam contoh di atas adalah kata akhlaquhum, yang mengandung dlamir (kata ganti) yang kembali kepada man’ut dalam contoh di atas kata al-asdiqa.. Na’at sababi tersebut akan selalu dalam bentuk mufrad sebagaimana hubungan antara fi’il dengan fa’ilnya. Tetapi harus mengikuti kata yang sesudahnya , yakni failnya dalam hal muannats dan muzakkarnya, meskipun harus berbeda dengan man’utnya, mislanya:
حضر الرجل الكريمة أمه
حضرت المرأة الكريم أبوها
حضر الرجال الكريمة أمهم
حضرت النساء الكريم أبوهن
حضر الرجال الكريم أبوهم
حضرت النساء الكريمة أمهن
Dengan kata lain, na’at sababi merupakan kata sifat yang mempunyai fa’il.dan kata tersebut menjadi na’at atau sifat bagi kata sebelumnya. Perlu diketahui bahwa kata sifat seperti isim fa’il , isim maf’ul atau sifah musyabbahah, bisa berfungsi seperti fungsi kata kerjanya, yaitu mempunyai fa’il bagi isim fa’il dan sifah musyabbahah dan mempunyai na’ib fa’il bagi isim maf’ul. Maka jika kata tersebut mempunyai fa’il yang ada kata ganti ( dlamir )nya, kemudian kata tersebut menjadi na’at atau sifat bagi kata sebelumnya, dalam keadaan seperti itulah disebut na’at sababi.
العطف :
حضر الأساتيذ والطلاب الندوة التي عقدتها هيئة الطلاب التنفيذية
Guru Besar dan para mahasiswa menghadiri seminar yang diadakan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa
التوكيد :
نجح أولئك الطلاب جميعهم في الامتحان
Mahasiswa-mahasiswa itu lulus ujian semuanya.
Kata jami’ di atas merupakan taukid yakni kata yang memperkuat pernyataan, sebab jika tidak diberi kata semacam itu, kemungkinan dipahami bahwa yang lulus sebagian amat besar boleh jadi ada satu atau dua mahasiswa yang tidak lulus.
مدير الجامعة نفسه هو الذي أعطى جائزة للطلاب المتفوقين
Rektornya sendiri yang memberi hadiah kepada para mahasiswa yang berprestasi
Jika tidak diberi taukid kemungkinan bisa dipahami bahwa yang memberi hadiah adalah Pembantu Rektor, yang mewakilinya.
البدل :
الأستاذ أحمد يلقي محاضرة عن تطور المجتمع الإسلامي في كندا
Profesor Ahmad menyampaian ceramah tentang perkembangan masyarakat Islam di Canada.
Yang di maksud dengan ustaz di sini adalah Ahmad, dan Ahamad yang dimaksud di sini adalah Ahmad yang profesor (ustaz ). Kedua kata tersebut sama maksudnya, karena itu maka badal tersebut disebut badal kull min al-kull.
يعجبني حسان صوته
Saya kagum dengan suara Hassan
Kata shaut menggantikan Hassan, jadi yang dikagumi bukan Hassannya tapi suaranya. Karena suara seseorang merupakan sesuatu yang tercakup dalam dirinya maka badal ini disebut badal isytimal
قطعنا المسافة نصفها
Kita menempuh separuh jarak perjalanan
Kata nishf menggantikan masafah, yang ditempuh bukan seluruh jarak perjalanan tetapi separuhnya. Nishf atau setengan adalah merupakan bagian dari suatu keseluruhan, maka badal ini disebut badal ba’dl min al-kull
9. Idlafah
Idlafah ada dua macam yaitu:
a) idlafah ma’nawiyyah dan
b) b)idlafah lafziyyah.
Adapun Idlafah ma’nawiyyah adalah merupakan penyatuan dua kata atau lebih yang menimbulkan makna salah satu dari tiga berikut : pertama, makna من (dari), misalnya : خاتم ذهب ( cincin dari emas); kedua, makna في (dalam) misalnya صلاة العصر (salat dalam waktu ashar) dan ketiga, makna ل (milik atau untuk), misalnya منزل أحمد (rumah milik Ahmad). Idlafah terdiri dari mudlaf dan mudlaf ilaih. Struktur ini bisa terdiri dari dua kata sebagaimana contoh di atas, bisa juga lebih dari dua, misalnya : فناء منزل أحمد (halaman rumah Ahmad) atau seperti فناء منزل رئيس المدرسة (halaman rumah Kepala Sekolah).
Idlafah lafziyyah adalah idlafah yang tidak menimbulkan salah satu dari tiga makna huruf jar di atas, yakni من ؛ ل ؛ في . Disebut lafziyyah karena hanya lafalnya saja yang tampak dalam struktur idlafah, sementara maknanya bukan idlafah, misalnya: كثير المال ( banyak uangnya); atau قليل الكلام (sedikit bicaranya). Oleh karena itu, berbeda dengan idlafah ma’nawiyyah, yang mudlaf nya tidak boleh diberi tambahan ال , dalam idlafah lafziyyah , mudlaf nya bisa diberi ال misalnya : kata كثير الكلام bisa menjadi الكثير المال (orang yang banyak harta) dan begitu pula kata قليل الكلام bisa menjadi القليل الكلام (orang yang sedikit bicara)., hampir sama dengan ungkapan الذي كثر ماله dan الذي قلّ كلامه .
Apa yang dijelaskan di atas adalah pola-pola struktur kalimat yang terdiri dari unsur pokok ( ma’mul ‘umdah )yakni jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah , sementara yang lainnya adalah unsur pelengkap, (ma’mul fudlah). Semakin banyak unsur pelengkap yang ada pada suatu kalimat, semakin lengkap pula informasi yang terkandung didalamnya. Pola-pola struktur tersebut membentuk berbagai macam kalimat. Dapat dikatakan bahwa sebenarnya sebuah kalimat terjadi dari kombinasi unsur-unsur di atas. Kombinasi isi sifatnya arbriter, dan bisa bersifat kompleks, tergantung pada kebutuhan pengungkapan. Semakin lengkap ragam pola struktur yang digunakan dalam sebuah kalimat semakin lengkap informasi yang terkandung didalamnya dan semakin kompleks kalimat tersebut..
Pemahaman terhadap sebuah kalimat menuntut pengenalan pola strukturnya, sebab model struktur kalimat akan sangat berkaitan dengan maknanya. Karena itu maka kemampuan menganalisis struktur kalimat amat diperlukan dalam pemahaman sebuah teks bahasa Arab. Kekeliruan dalam menganalisisnya dapat mengakibatkan kesalahapahaman. Kalimat tertentu terkadang mempunyai lebih dari satu kemungknan struktur, sebab struktur kalimat tertentu dapat berbeda maknanya dari yang lain. Oleh karena struktur kalimat juga berkaitan dengan makna, maka pemahaman terhadap konteks juga diperlukan dalam menentukan struktur kalimat, misalnya:
.رأيت أمس صديق الطبيب الجديد
Kemarin saya melihat teman dokter yang baru itu.
Jika kata yang digaris bawah di atas dibaca aljadida , maka stuktur kata tersebut merupakan sifat atau naat dari kata shadiq, teapi kalau dibaca al-jadidi kata tersbut menjadi sifat atau naat dari kata at-tabib. Perbedaan struktur ini pada akhirnya juga berpengaruh pada makna kalimat. Arti kalimat di atas: Saya kemarin melihat teman dokter yang baru. Jika dibaca al-jadida maka yang baru adalah teman dokter tersebut, tetapi jika dibaca al-jadidi , yang baru adalah dokternya. Maka , penentuan struktur kalimat tersebut tergantung pada maknanya, dan ini hanya dapat dipastikan melalui konteksnya.
Berikut ini adalah contoh analisis struktur kalimat

إن التقدم الكبير الذي حدث في مختلف ميادين العلوم في الغرب رافقه التوسع في مفردات اللغات الغربية .وهذا التوسع لا يرجع كله إلى أصول اللغات الغربية، فإن كثيرا منه قام على مفردات اعتباطية كالنسبة إلى الأشخاص أو إلى أشياء عادية ولكنه اكتسب، بشيوع استعماله، معاني خاصة ساعدت على إنماء مفردات المعاجم الغربية وسبب صعوبات في إيجاد البدائل المقابلة لها بالعربية.
Analisis:
1- إن التقدم الكبير الذي حدث في مختلف ميادين العلوم في الغرب رافقه التوسع في مفردات اللغات الغربية
Artinya: Kemajuan besar yang telah terjadi pada berbagai bidang keilmuan di Barat diikuti oleh perluasan kosa kata bahasa-bahasa Barat.
Kalimat di atas disebut jumlah ismiyyah, yakni kalimat yang diawali dengan isim (kata benda), yang terdiri dari unsur pokok yakni mubtada’ (subyek) dan khabar (predikat). Tetapi masing-masing unsur tersebut diikuti oleh penjelasan tersendiri.
Mubtada’: إن التقدم الكبير الذي حدث في مختلف ميادين العلوم في الغرب
Khabar : رافقه التوسع في مفردات اللغات الغربية

Kalimat di atas adalah jumlah ismiyyah yang sudah ditambah dengan إن , terdiri dari : M (15+16) + Kh(1+ 6 +2) . Penjelasan:
التقدم الكبير الذي = إسم إن (منعوت + نعت ) ؛ الذي = (إسم موصول)
Kemajuan besar yang
حدث في مختلف ميادين العلوم في الغرب = صلة الموصول
terjadi dalam berbagai bidang ilmu di Barat
رافقه التوسع في مفردات اللغات الغربية = خبر إن
فعل + مفعول به + فاعل +جار+ مجرور ( إضافة + نعت )
Artinya:
Diikuti oleh perluasan dalam kosakata-kosakata bahasa Barat.
2-وهذا التوسع لا يرجع كله إلى أصول اللغات الغربية
Artinya: Dan perluasan ini tidak semuanya bersumber pada dasar-dasar bahasa Barat.
Kalimat di atas adalah jumlah ismiyyah yang terdiri M(19 + 20) – Kh (1+2) – jar + majrur (23 + 24)-(15 + 16)
و = حرف عطف هذا التوسع = مبتدأ (مبدل منه + بدل)
لا يرجع كله = خبر (فعل + فاعل)
إلى أصول اللغات الغربية = جار + مجرور ( إضافة + نعت)
أصول اللغات = مضاف + مضاف إليه (منعوت)
اللغات الغربية = منعوت + نعت
Penjelasan : Satu kata bisa mempunyai dua fungsi, misalnya sebagai mudlaf ilaih, sekaligus sebagai man’ut.
فإن كثيرا منه قام على مفردات اعتباطية كالنسبة إلى الأشخاص أو إلى أشياء عادية
ف = حرف عطف
كثيرا منه (من التوسع) = إسم إن
قام على مفردات اعتباطية = جملة فعلية : قام (هو) =فعل + فاعل = خبر إن
على مفردات اعتباطية = جار + مجرور (منعوت + نعت)
Artinya:
Sebab banyak di antara perluasan itu berdasarkan kosakata-kosakata yang sifatnya arbiter seperti penisbahan kepada person-person tertentu atau sesuatu yang sifatnya biasa.
Penjelasan : Kata ف tidak selalu berrti “maka” kadang-kadang berarti “sebab”, seperti pada contoh di atas. Dalam hal ini konteks kalimat perlu dipertimbangkan. Begitu pula kata قام yang arti asalnya “berdiri”, jika dihubungkan dengan harf jar على artinya “berdasarkan”, jika dihubungkan dengan harf jar ب artinya “melakukan”
ولكنه اكتسب، بشيوع استعماله، معاني خاصة ساعدت على إنماء مفردات المعاجم الغربية
و= حرف العطف ؛ لكنه ( التوسع المذكور ) = لكن + ضمير (إسم لكن)
اكتسب = فعل +فاعل (اكتسب + هو) = حبر من “لكن”
بشيوع استعماله = شبه الجملة (جار ومجرور) = معترضة بين الفعل ومفعوله
معاني خاصة = مفعول به (منعوت + نعت )
ساعدت = الجملة الفعلية (ساعد + هي ) = نعت ل “معاني خاصة”
Keterangan : Jumlah, baik yang ismiyyah atau fi’liyyah jika menjelaskan isim nakirah, seperti pada contoh di atas , yakni معاني خاصة ساعدت maka kedudukannya akan menjadi na’at atau sifah , implikasinya pada makna adalah tambahan makna “yang”. Dalam contoh di atas menjadi : makna-makna khusus yang medukung …
على إنماء مفردات المعاجم الغربية = جار ومجرور (إضافة)
إنماء مفردات المعاجم الغربية = مضاف + مضاف إليه
مفردات المعاجم الغربية =(مضاف إليه) مضاف + مضاف إليه (مننعوت) + نعت
Keterangan : Kata مفردات di atas, di samping menjadi mudlaf ilaih juga merupakan mudlaf. . Implikasinya, huruf akhirnya tidak boleh dibaca tanwin dan awal katanya tidak boleh mnggunakan ال , kecuali pada idlafah lafziyyah .
و = حرف عطف ؛ سبب = الجملة من الفعل ولفاعل (سبب + هو) خبر من لكنّ وهو كذلك معطوف على “اكتسب”
صعوبات = مفعول به ل ” سبب”
في إيجاد البدائل = الجار + المجرور ، متعلق بصعوبات
إيجاد البدائل = مضاف + مضاف إليه (منعوت)
البدائل المقابلة = منعوت (مضاف إليه) + نعت
لها (لمفردات المعاجم الغربية) = جار + مجرور (ضمير)
بالعربية = جار +مجرور متعلق ب “المقابلة”.
Arti kalimat di atas menjadi :
Tetapi perluasan kosa kata yang berdasar cara arbiter seperti penisbahan pada nama person-person atau sesuatu hal yang biasa itu, karena banyak digunakan, mendapat makna-makna baru yang mendukung semakin bertumbuhnya kosakata-kosakata kamus bahasa Barat.
Analisis Struktur Kalimat :
Teks dari al-Gazali dari bukunya Maqasid al-Falasifah
أما التمهيد فهو أن العلوم وإن انشعبت أقسامها فهي محصورة في قسمين : التصور والتصديق . أما التصور فهو إدراك الذوات التي يدل عليها بالعبارات المفردة على سبيل التفهيم والتحقيق كإدراك المعنى المراد بلفظ الجسم والشجر والملك والجن والروح وأمثاله. وأما التصديق فكعلمك بأن العالم حادث والطاعة يثاب عليها والمعصية يعاقب عليها ، وكل تصديق فمن ضرورته أن يتقدمه تصوران. فإن من لم يفهم العالم وحده ، والحادث وحده لم يتصور منه التصديق بأنه حادث بل لفظ الحادث إذا لم يتصور معناه صار كلفظ المادث مثلا. ولو قيل العالم مادث لم يمكنك لا تصديق ولا تكذيب لأن ما لا يفهم كيف ينكر أو كيف يصدق به وكذلك لفظ العالم إذا أبدل بمهمل. ثم كل واحد من التصور والتصديق ينقسم إلى ما يدرك أو لا من غير طلب وتأمل، وإلى ما لا يحصل إلا بالطلب. أما الذي يتصور من غير طلب فكالموجود والشيء وأمثالهما. وأما الذي يتحصل بالطلب فكمعرفة حقيقة الروح والملك والجن وتصور الأمور الخفية وذواتها.
وأما التصديق المعلوم أولا : فكالحكم بأن الإثنين أكثر من واحد وأن الأشياء المساوية لشيء واحد متساوية ويضاف إليه الحسيات والمقبولات وجملة من العلوم التي تشتمل النفوس عليها من غير سبق طلب وتأمل فيها وينحصر في ثلاثة عشر نوعا .
Analisis Struktur Kalimat (bagian-bagian tertentu):
a.Mubtada’ dan khabar; Tarkib Idlafi dan Tarkib Washfi
أما التمهيد فهو أن العلوم وإن انشعبت أقسامها فهي محصورة في قسمين : التصور والتصديق . أما التصور فهو إدراك الذوات التي يدل عليها بالعبارات المفردة على سبيل التفهيم والتحقيق كإدراك المعنى المراد بلفظ الجسم والشجر والملك والجن والروح وأمثاله
Kata yang dimasuki atau terletak sesudah أما selalu dalam posisi mubtada’. Dan khabarnya diawali dengan huruf ف . Kalimat yang digaris bawah di atas terdiri dari struktur mubtada’ dan khabar (berupa khabar jumlah), secara berturut-turut sebagai berikut :
التمهيد = مبتدأ / هو أن العلوم وإن انشعبت أقسامها فهي محصورة في قسمين =خبر
هو = مبتدأ / أن العلوم وإن انشعبت أقسامها فهي محصورة في قسمين = خبر
العلوم = اسم أن / هي محصورة في قسمين = خبر أن
وإن انشعبت أقسامها Adalah jumlah mu’taridlah , yaitu suatu kalimat atau jumlah, bisa berupa ismiyyah atau fi’liyyah yang terletak di tengah suatu jumlah atau kalimat. Dikatakan mu’taridlah sebab jumlah tersebut menghalangi hubungan langsung unsur-unsur pokok dalam suatu kalimat tertentu. Dengan kata lain, jumlah mu’taridlah adalah suatu jumlah atau kalimat yang disebutkan untuk memberi penjelasan di tengah kalimat. Kata التصور والتصديق adalah badal dari قسمين , yakni bahwa dua bagian itu adalah التصور والتصديق .
Sedangkan struktur إدراك المعنى المراد adalah idlafah dan sifah maushuf. Kata إدراك المعنى merupakan idlafah mashdar kepada maf’ul bihnya , artinya ‘menangkap akan makna”. Sedangkan kata المراد adalah isim maf’ul yang mengandung arti “di” , sifat dari kata المعنى . Jadi arti ungkapan di atas “menangkap makna yang dimaksud”. Jadi arti kalimat di atas adalah:
Adapun dasar pemikirannya adalah bahwa berbagai macam ilmu, meskipun bagian-bagiannya bercabang-cabang, terbatas pada dua hal, yaitu tasawwur dan tashdiq. Tashawwur adalah menangkap makna benda-benda yang ditunjukkan oleh ungkapan-ungkapan tunggal dalam rangka pemahaman dan pendalaman, seperti menangkap makna yang dimaksud oleh lafal jasmani, pohon, Malaikat, Jin, ruh dan yang seperti itu.
وأما التصديق فكعلمك بأن العالم حادث والطاعة يثاب عليها والمعصية يعاقب عليها ، وكل تصديق فمن ضرورته أن يتقدمه تصوران. فإن من لم يفهم العالم وحده ، والحادث وحده لم يتصور منه التصديق بأنه حادث بل لفظ الحادث إذا لم يتصور معناه صار كلفظ المادث مثلا. ولو قيل العالم مادث لم يمكنك لا تصديق ولا تكذيب لأن ما لا يفهم كيف ينكر أو كيف يصدق به وكذلك لفظ العالم إذا أبدل بمهمل.
Kata علمك adalah termasuk إضافة المصدر إلى فاعله artinya “Pengetahuanmu”. Di sini pelakunya adalah kata ganti “mu” atau dlamir mukhatab ك , berbeda dengan kata إدراك المعنى , kata المعنى yang sebagai mudlaf ilaih dari sisi lafalnya adalah maf’ul bih dari sisi maknanya. Artinya “mengetahui makna”. Kata “makna” di sini sebagai objek atau maf’ul bih. Karena itu maka yang terakhir ini disebut إضافة المصدر إلى مفعوله .
Kalimat والطاعة يثاب عليها diatafkan (معطوف) kepada kalimat sebelumnya , yakni أن العالم حادث . Implikasinya pada makna adalah bahwa kalimat tersebut berkait dengan kalimat yang sebelumnya, jadi penerjemahannya “seperti pengetahuanmua bahwa alam ini baru dan bahwa taat itu diberi pahala (pelakunya).”
Kalimat وكل تصديق فمن ضرورته أن يتقدمه تصوران terdiri dari Mbtada + khabar jumlah yang analisisnya sebagai berikut:
وكل تصديق = مبتدأ / فمن ضرورته أن يتقدمه تصوران = خبر
فمن ضرورته = خبر مقدم / أن يتقدمه تصوران = مبتدأ مؤخر
Kata أن يتقدمه تصوران jika dirubah bentuk mashdar menjadi تقدم التصورين التصديق artinya “mendahuluinya dua tashawwur akan tashdiq” atau dengan kata yang lebih mudah “dua tashawwur mendahului tashdiq.”.
Kata يصدق به mempunyai berbagai macam kemungkinan bentuk, tetapi jika dilihat dari konteksnya maka bentuk kata tersebut adalah pasif, dibaca “yushaddaqu bihi” arti harfiahnya “dibenarkan dengannya” yang dimaksud “dibenarkan” sebab harf jar ب di sini merupakan satu rangkaian kata kerjanya, tidak berdiri sendiri, sehingga tidak perlu diartikan secara tersendiri.
Arti keseluruhannya menjadi:
Tashdiq seperti pengetahuanmu bahwa alam itu baru, dan bahwa pelaku taat itu diberi pahala , pelaku maksiat disiksa . Dan setiap tashdiq harus didahului oleh dua tashawwur. Maka orang yang tidak memahami pengertian alam itu sendiri atau pengertian baru itu sendiri, tidak terbayangkan bahwa ia mencapai tahap tashdiq bahwa alam itu baru. Lafal الحادث jika maknanya tidak dapat dipahami sama saja dengan lafal المادث ,misalnya, (sama-sama tidak dipahami). Jika dikatakan , العالم مادث maka anda tidak dapat membenarkan atau menyalahkannya, karena sesuatu yang tidak dipahami bagaimana bisa diingkari atau dibenarkan? Begitu pula dengan kata العالم jika diganti dengan kata muhmal (yang tidak bermakna).
b.Bentuk Majhul (pasif)
ثم كل واحد من التصور والتصديق ينقسم إلى ما يدرك أولا من غير طلب وتأمل، وإلى ما لا يحصل إلا بالطلب.
Perbedaan bentuk pasif antara fi’il madli dan mudlari terletak pada huruf sebelum akhir: untuk fi’il madli dikasrah , untuk fi’il mudlari difathah. Huruf awalnya , keduanya didlammah, misalnya kata ترك dan يترك bentuk aktifnya dibaca taraka dan yatruku, sedangkan bentuk pasifnya dibaca turika dan yutraku. Bentuk aktif ataupun pasifnya sesuatu kata kerja dapat diketahui melalui konteks kalimatnya.
Kata يدرك dari konteks kalimatnya adalah bentuk pasif dibaca yudraku , kata أولا adalah zarf zaman , karena itu maka dibaca nashab. Kalimat ما لا يحصل إلا بالطلب adalah istitsna menggunakan nafi dan إلا , yang mengandung arti hashr , padanan dalam bahasa Indonesia adalah makna “hanya”. Jadi arti kalimat di atas adalah : Kemudian masing-masing dari tashawwur dan tashdiq terbagi kepada : sesuatu yang dari pertama dapat ditangkap maknaya, tanpa penncarian atau perenungan, dan sesuatu yang hanya didapatkan dengan pencarian.
أما الذي يتصور من غير طلب فكالموجود والشيء وأمثالهما. وأما الذي يتحصل بالطلب فكمعرفة حقيقة الروح والملك والجن وتصور الأمور الخفية وذواتها.
Kata يتحصل juga bentuk pasif, dibaca yutahassalu , berbeda dengan يحصل yang pertama mengikuti wazan يتفعّل mengandung arti takalluf (paksaan, dalam hal ini :usaha keras) ; yang kedua mengikuti wazan يفعل , tidak mengandung arti takalluf. Arti kalimat di atas menjadi: Adapun yang dapat dipersepsikan tanpa pencarian adalah seperti “yang ada” atau sesuatu dan yang sepertinya. Sedangkan yang diupayakan untuk didapatkan melalui pencarian adalah seperti mengetahui hakikat roh, malaikat, jin, serta mempersepsikan sesuatu yang samar dan yang berkaitan dengannya.
وأما التصديق المعلوم أولا : فكالحكم بأن الإثنين أكثر من واحد وأن الأشياء المساوية لشيء واحد متساوية ويضاف إليه الحسيات والمقبولات وجملة من العلوم التي تشتمل النفوس عليها من غير سبق طلب وتأمل فيها وينحصر في ثلاثة عشر نوعا.
Struktur التصديق المعلوم dan الأشياء المساوية adalah na’at dan man’ut (tarkib wasfi). Beda antara kedua struktur di atas, yang pertama na’atnya berupa isim maf’ul, yang kedua berupa isim fa’il. Yang pertama artinya “yang diketahui”, yang kedua artinya “yang sama”. Isim maf’ul mempunyai makna yang sama dengan kata kerja bentuk majhul, bedanya bahwa isim maf’ul tidak disertai oleh waktu, sementara fi’il mabni majhul disertai oleh waktu telah (jika fi’il madli) atau sedang atau akan datang (jika fi’il mudlari’ ). Misalnya kata معلوم sama dengan عُلِمَ (‘ulima ) atau يُعْلَمُ ( yu’lamu ), hanya beda masalah waktu sebagaimana di atas. Jadi kata التصديق المعلوم sama dengan التصديق الذي عُلِمَ atau التصديق الذي يُعْلَمُ .
Kalimat يضاف إليه الحسيات adalah bentuk fi’il bentuk pasif + naib fa’il, artinya secra harfiah “ditambahkan kepadanya hal-hal yang dapat diindera”, maksudnya “ ditambah lagi hal-hal yang dapat diindera”.
Ungkapan من غير سبق طلب terdiri dari jar majrur dan idlafah. Kata من adalah jar , dan selebihnya majrur, yakni غير سبق طلب . ungkapan ini adalah idlafah, terdiri dari kata غير sebagai mudlaf dan سبق طلب sebagai mudlaf ilaih, kedua kata yang terakhir ini juga idlafah yang terdiri dari kata سبق (mudlaf ) dan kata طلب (mudlaf ilaih )..
Dalam konteks lain, kemungkinan kata سبق dibaca sabaqa, tetapi dalam konteks ini dibaca sabqi, bentuk mashdar dari sabaqa. Dibaca sebagai mashdar karena kata tersebut menjadi mudlaf ilaih. Yang harus berupa isim
Jadi sesuatu kata yang sama persis tulisannya terkadang bisa berbeda bacaannya karena bentuk katanya juga berbeda. Perbedaan bentuk kata dapat diketahui melalui konteks kalimat, misalnya kata yang terletak sesudah harf jar adalah isim, begitu pula kata yang strukturnya menjadi mudlaf ilaih. Hal ini perlu dicermati sebab tidak sedikit kata dalam bahasa Arab yang antara bentuk madli dan mashdarnya sama tulisannya, hanya beda harakatnya saja, seperti kata ضرب، ترك، سبق، طلب dan sebagainya.
Kata سبق طلب adalah idlafah yang terdiri dari kata سبق sebagai mudlaf dan طلب sebagai mudlaf ilaih. Arti ungkapan من غير سبق طلب secara harfiah adalah “ dari tanpa pendahuluan pencarian “, tetapi yang dimaksud adalah “tanpa pencarian terlebih dahulu”. Kata نوعا dalam ungkapan ثلاثة عشر نوعا adalah tamyiz. Dan harus dibaca nashab., dalam hal ini huruf yang terakhir dibaca fathah. Jadi arti kalimat di atas secara keseluruhan adalah
Adapun tashdiq yang diketahui sejak pertama adalah seperti menentukan bahwa dua itu lebih banyak daripada satu, dan bahwa hal-hal yang menyamai sesuatu yang satu adalah sama (antara yang satu dengan yang lain), ditambah lagi hal-hal yang dapat diindera, hal-hal yang dapat diterima (secara logika) dan sejumlah pengetahuan yang tercakup dalam diri manusia, tanpa pencarian dan perenungan terlebih dahulu, yang tercakup dalam 13 macam..
Analisis Struktur Kalimat :
عبد الله ابن المقفع . كليلة ودمنة . بيروت: دار الفكر العربي لطبعة الأولى ، 1990 ، ص48-49
يجب على العاقل أن يصدق بالقضاء والقدر، ويعلم أن ما كتب سوف يكون، وأن من أتى صاحبه بما يكره لنفسه فقد ظلم. ويأخذ بالحزم ويحب للناس ما يحب لنفسه، ولا يلتمس صلاح نفسه بفساد غيره، فإنه من فعل ذلك كان خليقا أن يصيبه ما أصاب التاجر من رفيقه ، فإنه يقال:
إنه كان رجل تاجر، وكان له شريك، فاستأجرا حانوتا ، وجعلا متاعهما فيه. وكان أحدهما قريب المنزل من الحانوت، فأضمر في نفسه أن يسرق ِعدلا من أعدال (أكياس كبيرة) رفيقه ومكر الحيلة في ذلك، وقال : إن أتيت ليلا لم آمن أن أحمل عدلا من أعدالي أو رزمة من رزمي ولا أعرفها، فيذهب عنائي وتعبي باطلا. فأخذ رداءه وألقاه على العدل الذي أضمر أخذه، ثم انصرف إلى منزله، وجاء رفيقه بعد ذلك ليصلح أعداله، فوجد رداء شريكه على بعض أعداله، فقال: والله هذا رداء صاحبي، ولا أحسبه إلا قد نسيه. وما الرأي أن أدعه هاهنا، ولكن أجعله على رزمه، فلعله يسبقني إلى الحانوت فيجده حيث يحب. ثم أخذ الرداء فألقاه على عدل من أعدال رفيقه، وأقفل الحانوت ومضى إلى منزله.
فلما جاء الليل أتى رفيقه ومعه رجل وقد واطأه (وافقه) على ما عزم عليه، وضمن له جُعْلا (أجرا) على حمله فصار إلى الحانوت، فالتمس الرداء في الظلمة فوجده على العِدل، فاحتمل ذلك العدلَ، وأخرجه هو والرجل وجعلا يتراوحان (يتناوبان) على حَمْله، حتى أتى منزله، ورمى نفسه تعبا.
فلما أصبح افتقده فإذا هو بعض أعداله، فندم أشد الندامة ثم انطلق نحو الحانوت ، فوجد شريكه قد سبقه إليه ففتح الحانوت، ووجد العدل مفقودا: فاغتمّ لذلك غما شديدا، وقال: واسوأتاه من رفيق صالح قد ائتمنني على ماله وخلفني فيه ! ما ذا يكون حالي عنده؟ ولست أشك في تهمته إياي ، ولكن قد وطّنت (هيّأت ظ صمّمت) نفسي على غرامته. ثم أتى صاحبه فوجده مغتم، فسأله عن حاله، فقال: إني قد افتقدت الأعدال، وفقدت عدلا من أعدالك، ولا أعلم سببه، وإني لا أشك في تهمتك إياي، وإني وطّنت نفسي على غرامته ، فقال له : يا أخي لا تغتم: فإن الخيانة شر ما عمله الإنسان، والمكر والخديعة لا يؤديان إلى خير، وصاحبهما مغرور أبدا ، وما عاد وبال البغي (الظلم) إلا على صاحبه، وأنا أحد من مكر وخدع واحتال. فقال له صاحبه : وكيف كان ذلك؟ فأخبره بخبره، وقص عليه قصته فقال له رفيقه : ما مثلك إلا مثل اللص والتاجر. فقال له: وكيف كان ذلك؟

c.Fi’il, Fa’il, l dan Maf’ul bih, dan ‘Ataf
يجب على العاقل أن يصدق بالقضاء والقدر، ويعلم أن ما كتب سوف يكون، وأن من أتى صاحبه بما يكره لنفسه فقد ظلم. ويأخذ بالحزم ويحب للناس ما يحب لنفسه، ولا يلتمس صلاح نفسه بفساد غيره، فإنه من فعل ذلك كان خليقا أن يصيبه ما أصاب التاجر من رفيقه ، فإنه يقال:
Setiap kata kerja (fi’il ) pasti mempunyai fa’il (pelaku). Hanya saja dalam bahasa Arab, fa’il masih terbagi lagi :1)dlamir (kata ganti) dan 2) zahir (bukan kata ganti). Kata ganti (dlamir ) juga terbagi lagi menjadi : a) nustatir dan b) bariz. Sedangkan yang zahir juga terbagi lagi menjadi : a)sharih dan b)mu’awwal. Contoh Fa’il dlamir mustatir seperti pada kata yang digaris bawah berikut ini:
من أتى صاحبه بما يكره لنفسه فقد ظلم
Dalam kata kerja yang digaris bawah di atas terkandung fa’il isim dlamir mustatir (kata ganti yang tidak tampak) yakni هو . Sedangkan fa’il sharih seperti kata طالب pada kalimat جاء الطالب sedangkan fail yang mu’awwal kata yang digaris bawah berikut ini:
يجب على العاقل أن يصدق بالقضاء والقدر ويعلم أن ما كتب سوف يكون
Kata yang digaris bawah di atas adalah fa’il muawwal, termasuk kata يعلم , sebab asalnya أن يعلم ataf kepada kata أن يصدق , jika dirubah bentuk mashdar menjadi:
يجب على العاقل تصديقه بالقضاء والقدر وعلمه أن ما كتب سوف يكون
Kata-kata yang digaris bawah berikut ini adalah maf’ul bih :
وأن من أتى صاحبه بما يكره لنفسه فقد ظلم
Dan bahwa orang yang memperlakukan temannya dengan sesuatu perlakuan yang dirinya tidak suka, sungguh-sungguh telah berbuat zalim.
ويحب للناس ما يحب لنفسه
Hendaknya ia menyukai terhadap orang lain apa yang ia sukai terhadap dirinya
ولا يلتمس صلاح نفسه بفساد غيره
Hendaknya tidak mencari kebaikan dirinya dengan kerusakan orang lain,
من فعل ذلك كان خليقا أن يصيبه ما أصاب التاجر من رفيقه
Orang yang melakukan hal itu bisa mengalami apa yang dialami oleh seorang pedagang karena temannya.
ما أصاب التاجر
Apa yang menimpa atau yang dialami pedagang
Konteks kalimat dan makna kalimat sangat membantu dalam penentuan fa’il (pelaku) atau maf’ul bih (penderita). Dengan kata lain, penentuan fail atau maf’ul sangat berkaitan dengan konteks kalimat dan maknanya.
arti kalimat di atas:
Orang yang berakal haruslah membenarkan qadla dan qadar, tahu bahwa apa yang tertulis akan terjadi dan bahwa orang yang memperlakukan temannya dengan sesuatu perlakuan yang dirinya tidak suka, sungguh-sungguh telah berbuat zalim. Hendaknya ia memegang teguh (hal itu). Hendaknya ia menyukai terhadap orang lain apa yang ia sukai terhadap dirinya. Hendaknya tidak mencari kebaikan dirinya dengan kerusakan orang lain, sebab orang yang melakukan hal itu bisa mengalami apa yang dialami oleh seorang pedagang karena temannya, konon ceriteranya :
d. Kana , Inna, Maf’ul fih dan Hal
إنه كان رجل تاجر، وكان له شريك، فاستأجرا حانوتا ، وجعلا متاعهما فيه. وكان أحدهما قريب المنزل من الحانوت، فأضمر في نفسه أن يسرق ِعدلا من أعدال (أكياس كبيرة) رفيقه ومكر الحيلة في ذلك، وقال : إن أتيت ليلا لم آمن أن أحمل عدلا من أعدالي أو رزمة من رزمي ولا أعرفها، فيذهب عنائي وتعبي باطلا. فأخذ رداءه وألقاه على العدل الذي أضمر أخذه، ثم انصرف إلى منزله.
Perhatikan kalimat-kalimat berikut ini:
1-إنه كان رجل تاجر
2-كان له شريك
3-كان أحدهما قريب المنزل من الحانوت
1.Adalah seorang pedagang
2.Ia mempunyai seorang teman usaha
3.Salah satu dari keduanya rumahnya dekat kios / warung
Kata إنّ terkadang dibaca أن tergantung letaknya. Secara umum, jika kata tersebut terletak pada awal kalimat maka hamzahnya dibaca kasrah, tetapi jika terletak di tengah-tengah kalimat atau terletak sesudah harf jar maka hamzahnya dibaca fathah (أن) . Sebenarnya ada kaidah sendiri menyangkut bacaan hamzah tersebut dalam buku-buku nahwu. Masalah itu tidak dibahas di sini secara khusus, sebab kedua bacaan tersebut sama sekali tidak ada pengaruhnya pada makna. Tetapi kalau harf nunnya tanpa tasydid, yakni إنْ atau أنْ akan ada pengaruh yang cukup besar terhadap makna, sebab kata إنْ bisa bermakna إنّ seperti dalam ayat وإنْ كانت لكبيرة إلا على الخاشعين (dan sesungguhnya salat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu). Dalam konteks lain, kata tersebut juga dapat bermakna “apabila”, misalnya dalam kalimat إن تزرني أزرك (Kalau kamu mengunjungi saya, saya akan mengunjungi kamu) atau إن تنجح في الامتحان أعطك هدية (Jika kamu lulus dalam ujian maka kamu akan kuberi hadiah). Dalam konteks yang lain lagi bisa bermakna “meskipun” seperti dalam kalimat: زارني صديقي مرة في الأسبوع وإن كان بيته بعيدا عني (Temanku datang mengunjungiku seminggu sekali meskipun rumahnya jauh dariku).
Sebagaimana كان , kata إن mempunyai isim dan khabar. Keduanya berasal dari mubtada’ dan khabar. Dalam arti bahwa, struktur mubtada’ dan khabar jika ditambah harf إنّ atau أنّ di depan maka yang asalnya mubtada’ akan menjadi isimnya, dan yang asalnya khabar akan menjadi khabarnya. Hal ini berkaitan dengan masalah bacaan, yakni rafa’ dan nasab. Isim كان bacaannya rafa’ , sementara isim إن bacaannya nashab. Sedangkan khabar كان bacaannya nashab , sementara khabar إن bacaannya rafa’. Jadi antara keduanya berbalikan.
Satu hal yang perlu menjadi catatan adalah bahwa Ismi إنّ atau أنّ terkadang berupa kata ganti, tetapi tidak merujuk kepada kata sebelumnya, melainkan ke pernyataan yang ada sesudahnya, misalnya dalam kalimat اعلم أنه لاإله إلا الله , kata ganti yang ada pada kata أنه tidak merujuk kepada kata sebelumnya sebagaimana lazimnya kata ganti, tetapi merujuk kepada pernyataan sesudahnya yaitu لاإله إلا الله . Arti kalimat tersebut menjadi “ Ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan kecuali Allah”. Termasuk dalam contoh ini adalah kalimat :إنه كان رجل تاجر artinya “Bahwasanya konon ada seorang pedagang”.
Kata كان ada dua macam, ada yang tam dan ada yang naqis, bedanya kana tam tidak memiliki khabar, tetapi hanya fa’il saja, seperti pada contoh nomor satu. Sedangkan kana naqis memiliki isim dan khabar yang asalnya struktur mubtada’ dan khabar.. Setelah ada kana , yang asalnya mubtada’ menjadi isim kana dan yang asalnya khabar mmenjadi khabar kana. Jika khabarnya berupa jar majrur atau zaraf sedangkan isimnya nakirah maka letak khabar di awal, dengan kata lain khabar muqaddam, seperti pada contoh nomor dua. Jika khabarnya bukan jar majrur atau zaraf, maka letak khabar tetap di belakang, seperti pada contoh nomor tiga.
Kata كان biasanya menunjukkan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, karena itu biasanya kata tersebut dipakai untuk mengungkapkan cerita – cerita tentang masa lampau, seperti kalimat كنت أدرس في القاهرة artinya, Dulu saya belajar di Kairo (sekarang tidak lagi). Tetapi jia dikatakan أدرس في القاهرة maka artinya Saya belajar di Kairo (sekarang ini). Meskipun demikian, bisa juga maknanya tidak menunjuk demikian, seprti ungkapan كان الله غفورا رحيما , Sifat Maha Pengampun dan maha Penyayang Allah bukan hanya dahulu saja, karena itu, maka fungsi كان dalam konteks tersebut adalah sebagai penguat.
1-إن أتيت ليلا لم آمن أن أحمل عدلا من أعدالي أو رزمة من رزمي
2-يذهب عنائي وتعبي باطلا
1.Kalau saya datang di waktu malam, saya tidak merasa yakin(tidak ) membawa salah satu karung saya sendiri. (Orang tersebut ingin mengambil karung temannya tentunya yang berisi sesuatu yang jauh lebih berharga, bukan karungnya sendiri). Bisa juga diterjemahkan menjadi: Kalau saya di waktu malam, saya bisa keliru membawa karung saya sendiri.
2.Kesulitan dan jerih payah saya hilang secara percuma
Kata yang digaris bawah pada contoh nomor satu adalah maf’ul fih sebab kata tersebut menunjukkan keterangan waktu. Sedangkan yang digaris bawah pada cotoh nomor dua adalah hal, sebab kata tersebut menjelaskan keadaan fa’il.
إنه كان رجل تاجر، وكان له شريك، فاستأجرا حانوتا ، وجعلا متاعهما فيه. وكان أحدهما قريب المنزل من الحانوت، فأضمر في نفسه أن يسرق ِعدلا من أعدال (أكياس كبيرة) رفيقه ومكر الحيلة في ذلك، وقال : إن أتيت ليلا لم آمن أن أحمل عدلا من أعدالي أو رزمة من رزمي ولا أعرفها، فيذهب عنائي وتعبي باطلا. فأخذ رداءه وألقاه على العدل الذي أضمر أخذه، ثم انصرف إلى منزله.
Konon ada seorang pedagang,, punya teman usaha. Mereka menyewa sebuah kios dan menaruh barang dagangannya di situ.. Salah satu dari mereka, rumahnya dekat kios tersebut.. Ia menyimpan niat buruk dalam dirinya untuk mencuri salah satu karung milik temannya itu.. Ia pun mengatur siasat untuk maksud tersebut.. Ia berkata (dalam hatinya): “Jika saya datang (ke kios untuk mengambil barang temannya) di waktu malam, saya bisa keliru mengambil karung saya sendiri sementara saya tidak tahu, maka hilang percuma saja kesulitan dan jerih payah saya. Maka ia pun mengambil kainnya dan meletakkan di karung yang sudah direncanakan akan diambilnya, kemudian ia pulang ke rumahnya..
وجاء رفيقه بعد ذلك ليصلح أعداله، فوجد رداء شريكه على بعض أعداله، فقال: والله هذا رداء صاحبي، ولا أحسبه إلا قد نسيه. وما الرأي أن أدعه هاهنا، ولكن أجعله على رزمه، فلعله يسبقني إلى الحانوت فيجده حيث يحب. ثم أخذ الرداء فألقاه على عدل من أعدال رفيقه، وأقفل الحانوت ومضى إلى منزله.
Analisis Bahasa :
وجاء رفيقه بعد ذلك ليصلح أعداله
Sebagaimana terdahulu bahwa kalimat ( jumlah )dalam bahasa Arab ada dua macam, yakni jumalh fi’liyyah dan ismiyyah, kedua-duanya lazim dipakai dalam kehidupan berbahasa. Sementara dalam bahasa Indonesia, meskipun ada kalimat verbal (fi’liyyah ) dan nominal ( ismiyyah ) tetapi yang terakhir ini lebih lazim digunakan.
Kata رفيقه adalah fa’il, sedangkan أعداله maf’ul bih .Atinya menjadi “Temannya datang setelah itu, untuk untuk memperbaiki karung-karungnya”.
فوجد رداء شريكه على بعض أعداله
Kata رداء شريكه adalah tarkib idlafi yang menjadi maf’ul bih. Sedangkan fa’ilnya adalah dlamir mustatir pada kata kerja وجد . Artinya menjadi “Maka ia mendapatkan kain temannya pada sebagian karung-karungnya
فلعله يسبقني إلى الحانوت
Kata لعل adalah termasuk kelompok إن mempunyai isim dan khabar . Isimnya adalah kata ganti ketiga mufrad, sedangkan khabarnya berupa jumlah yaitu يسبقني إلى الحانوت artinya menjadi “Barangkali ia mendahuluiku ke kios” maksudnya “ Barangkali dia lebih dulu pergi ke kios daripada saya”.
أخذ الرداء فألقاه على عدل من أعدال رفيقه، وأقفل الحانوت ومضى إلى منزله.
Kata-kata yang digaris bawah di atas semuanya maf’ul bih. Artinya kalimat “Ia mengambil kain, lantas menaruhnya pada salah satu karung di antara beberapa karung temannya, mengunci (pintu ) kios dan lantas pulang ke rumahnya.”.
Jadi arti kalimat tersebut di atas adalah:
Temannya datang setelah itu, untuk untuk memperbaiki karung-karungnya. Tiba-tiba ia mendapatkan kain temannya pada sebagian karung-karungnya. Lantas ia berkata: “Demi Allah , ini kain sahabat saya. pasti dia lupa. Sebaiknya tidak saya tinggalkan di sini, tapi biarlah saya ikatkan saja di karungnya, barangkali dia lebih dulu datang ke kios , dia tentu akan suka menemukannya. Ia mengambil kain, lantas menaruhnya pada salah satu karung di antara beberapa karung temannya, mengunci (pintu ) kios dan lantas pulang ke rumahnya.
فلما جاء الليل أتى رفيقه ومعه رجل وقد واطأه (وافقه) على ما عزم عليه، وضمن له جُعْلا (أجرا) على حمله فصار إلى الحانوت، فالتمس الرداء في الظلمة فوجده على العِدل، فاحتمل ذلك العدلَ، وأخرجه هو والرجل وجعلا يتراوحان (يتناوبان) على حَمْله، حتى أتى منزله، ورمى نفسه تعبا.
Analisis Kalimat :
Kata الليل dan رفيقه adalah fa’il. Kalimat (jumlah ) ومعه رجل وقد واطأه على ما عزم عليه adalah hal, sebab kalimat tersebut menjelaskan keadaan fa’il yang ma’rifat (kata yang definit). Jika yang dijelaskan berupa kata nakirah (infinit), kalimat tersebut akan menjadi sifay (na’at). Kata جُعْلا , الرداء , ذلك العدل , منزله dan نفسه adalah maf’ul bih. Sementara kata جعلا pada kalimat وجعلا يتراوحان على حمله termasuk أفعال الشروع yakni kata kerja yang mempunyai arti “memulai” (seringkali bisa juga diterjemahkan dengan “lantas”). Kemudian kata تعبا adalah maf’ul li ajlih , sebab menjelaskan alasan atau sebab dari suatu perbuatan, yaitu “merebahkan dirinya” (رمي نفسه ) . Arti keseluruuhan kalimat menjadi :
Ketika malam telah tiba, datanglah temannya itu bersama seseorang yang telah menyetujui untuk melakukan apa yang dimaksudkannya, ia menjanjikan upah kepadanya untuk membawa apa yang dimaksudkannya. Maka pergilah ia ke kios, lantas ia mencari kain dalam kegelapan. Ia dapatkan pada karung tertentu, ia angkat karung itu dan bersama orang laki-laki tersebut ia mengeluarkannya. Lantas mereka berdua saling bergantian membawa karung tersebut sampai di rumahnya Begitu sampai langsung ia merebahkan dirinya karena kapayahan.
فلما أصبح افتقده فإذا هو بعض أعداله، فندم أشد الندامة ثم انطلق نحو الحانوت ، فوجد شريكه قد سبقه إليه ففتح الحانوت، ووجد العدل مفقودا: فاغتمّ لذلك غما شديدا، وقال: واسوأتاه من رفيق صالح قد ائتمنني على ماله وخلفني فيه ! ما ذا يكون حالي عنده ؟ ولست أشك في تهمته إياي ، ولكن قد وطّنت (هيّأت ظ صمّمت) نفسي على غرامته. ثم أتى صاحبه فوجده مغتما، فسأله عن حاله، فقال: إني قد افتقدت الأعدال، وفقدت عدلا من أعدالك، ولا أعلم سببه، وإني لا أشك في تهمتك إياي، وإني وطّنت نفسي على غرامته ، فقال له : يا أخي لا تغتم: فإن الخيانة شر ما عمله الإنسان، والمكر والخديعة لا يؤديان إلى خير، وصاحبهما مغرور أبدا ، وما عاد وبال البغي (الظلم) إلا على صاحبه، وأنا أحد من مكر وخدع واحتال. فقال له صاحبه : وكيف كان ذلك؟ فأخبره بخبره، وقص عليه قصته فقال له رفيقه : ما مثلك إلا مثل اللص والتاجر. فقال له: وكيف كان ذلك؟
Analisis Teks :
Kata إذا pada kata yang digarisbawah berikut adalah fujaiyyah , dapat bermakna “ternyata” فلما أصبح افتقده فإذا هو بعض أعداله Artinya: Ketika datang waktu pagi ia mengeceknya, ternyata karung yang dibawanya itu salah satu di antara karung sendiri.
Kata yang digaris bawah berikut ini adalah maf’ul mutlaq . Cirinya, bentuk mashdar (ندامة ) dari kata yang sama dengan kata kerjanya , yakni ندم dan berfungsi mengokohkan makna (ta’kid) suatu perbuatan (ta’kid al-fi’li ).
فندم أشد الندامة ثم انطلق نحو الحانوت
Artinya : Maka ia pun sangat menyesal, keemudian pergi ke kios.
Dua fungsi lain dari maf’ul mutlaq adalah : 1)menjelaskan jumlah perbuatan ( bayan ‘adad al-fi’ly ) dan 2) menjelaskan macam perbuatan (bayan nau al-fi’li a)
Kata yang digaris bawah berikut ini semuanya maf’ul bih
فوجد شريكه قد سبقه إليه ففتح الحانوت، ووجد العدل مفقودا
Sedangkan kata مفقودا adalah hal, karena menjelaskan keadaan maf’ul bih yang ma’rifat.
Artinya : Ia mendapatkan temannya usahanya lebih dulu pergi ke kios, membuka kios dan mendapatkan karungnya hilang (maksudnya : menyadari atau tahu karungnya hilang)
Kata yang digaris bawah berikut ini adalah maf’ul mutlaq
: فاغتمّ لذلك غما شديدا
Artinya : Karena itu maka ia susah sekali
لست أشك في تهمته إياي
Kata تهمته adalah termasuk idlafat al-mashdar ila fa’ilihi artinya bahwa yang menjadi mudlaf ilaih di sini adalah fa’ilnya. Sedang kata إياي adalah maf’ul bih. Arti kalimat tersebut “Saya tidak ragu tentang tuduhan dia kepada saya ” maksudnya “ Saya yakin dia menuduh saya”
أتى صاحبه فوجده مغتما
Penentuan fa’il dan maf’ul dalam suatu kalimat tidak dapat dilepaskan dari konteks kalimat Sebab seringkali sesuatu kata mempunyai kemungkinan dari satu jabatan kata (tarkib). Dalam hal ini pemahaman tehadap konteks yang lebih luas sangat ditekankan untuk dapat menentukan tarkib yang tepat.
Sedangkan kata صاحبه adalah fa’il, kata yang digaris bawah adalah maf’ul bih, dan kata مغتما adalah hal, sebab kata itu menjelaskan keadaan kata ganti ketiga dalam kalimat tersebut. Artinya “ Sahabatnya datang, ia menpatkannya dalam keadaan bersedih”.
إني قد افتقدت الأعدال، وفقدت عدلا من أعدالك
Struktur kalimat yang digaris bawah adalah fi’il + fa’il (berupa dlamir )+ maf’ul bih, artinya “Sungguh saya telah mengecek karung-karung dan saya kehilangan salah satu di antara karung-karungmu”.
1-لا أعلم سببه
2-إني لا أشك في تهمتك إياي
3-إني وطّنت نفسي على غرامته
Kata yang digaris bawah di atas adalah maf’ul bih,, karena itu maka bacaannya nashab. Hanya saja, untuk contoh nomor dua dan tiga anda nashabnya tidak tampak, sebab kata إياي adalah kata ganti (dlamir) bersifat tetap (mabni), sementara kata نفسي karena mudlaf kepada ya mutakallim sehingga huruf akhirnya dikasrah. Untuk kata تهمتك إياي strukturnya sama dengan yang di atas, yakni idlaf al-mashdar ila fa’ilihi. Artinya menjadi “tuduhanmu kepada saya”.
Adapun arti masing-masing kalimat di atas secara urut sebagai berikut:
1. Saya tidak tahu sebabnya
2. Saya tidak ragu akan tuduhanmu kepada saya. Maksudnya : Saya yakin kamu menuduh saya
3. Saya menyiapkan diri saya untuk menggantinya. Maksudnya: Saya bersedia untuk menggantinya.:
Jadi arti keseluruhannya adalah:
Ketika hari sudah pagi , ia mengeceknya, ternyata karung itu salah satu karungnya. Maka ia pun amat menyesal, kemudian ia pergi ke toko.. Tapi ternyata teman usahanya itu sudah lebih dulu ke tokonya dan membukanya. Setelah tahu bahwa karungnya hilang, ia sangat sedih karena itu, seraya berkata: “ Betapa malangnya saya, menghadapi orang baik yang telah memberi kepercayaan atas hartanya dan urusannya kepada saya. Bagaimana saya harus menghadapinya? Saya yakin dia menududh saya. Tetapi saya sudah siap untuk menggantinya..Kemudian datanglah temannya (yang telah mengambil karung sebelumnya) mendapatkannya bersedih. Maka temannya itu menanyakan tentang keadaannya. Lantas ia pun mengatakan : “ Saya telah mengecek karung-karung itu, dan saya kehlangan salah satu di antara kaung-karungmu. Saya tidak tahu sebabnya. Tentu kamu menuduh saya. Saya (bagaimanapun juga ) harus siap untuk menggantinya..”

فقال له : يا أخي لا تغتم: فإن الخيانة شر ما عمله الإنسان، والمكر والخديعة لا يؤديان إلى خير، وصاحبهما مغرور أبدا ، وما عاد وبال البغي (الظلم) إلا على صاحبه، وأنا أحد من مكر وخدع واحتال. فقال له صاحبه : وكيف كان ذلك؟ فأخبره بخبره، وقص عليه قصته فقال له رفيقه : ما مثلك إلا مثل اللص والتاجر. وكيف كان ذلك؟
Analisis Kalimat:
Kata إن الخيانة شر ما عمله الإنسان terdiri dari isim inna (الخيانة ) dan khabarnya (شر ما عمله الإنسان ). Kata شر ما adalah tarkib idlafi , yang mudlaf ilaihnya berupa isim maushul yaitu ما . Setiap maushul pasti mempunyai shilat al-maushul, berupa jumlah atau syibh al-jumlah,. dalam contoh di atas adalah jumlah عمله الإنسان yang terdiri dari fi’il – maf’ul bih berupa dlamir (kata ganti) – fa’il. Dalam bahasa Indonesia, struktur kalimat yang polanya seperti ini sering diartikan dengan bentuk pasif. Ungkapan “apa yang melakukannya manusia” sebagai terjemahan harfiah dari jumlah tersebut terasa amat janggal dalam bahasa Indonesia. Maka, untuk gagasan yang sama, dalam bahasa Indonesia diungkapkan dengan cara “ apa yang dilakukan oleh manusia”. Jadi arti kalimat di atas adalah Sesungguhnya khianat itu adalah sesuatu (perbuatan) paling jelek yang dilakukan oleh manusia”.
Kalimat ما عاد وبال البغي إلا على صاحبه adalah struktur istitsna, dengan menggunakan نفي dan إلا . Struktur semacam ini menimbulkan arti hashr (pembatasan). Dalam bahasa Indonesia kadang-kadang diartikan dengan tambahan kata “hanya”. Jadi arti kalimat di atas adalah “Akibat kezaliman itu hanya akan kembali kepada yang melakukannya”. Contoh lain, misalnya, kalimat : ما اشتريت إلا ثلاثة كتب artinya “Saya hanya membeli tiga buku”. Tetapi, arti semacam ini bukan kepastian, sebab konteks kalimat harus selalu menjadi pertimbangan, misalnya pada struktur istitsna kedua di atas : ما مثلك إلا مثل اللص والتاجر , atruktur kalimat ini juga istitsna tetapi tampaknya leih cocok diartikan : “Perumpamaanmu tidak lain seperti perumpamaan Pencuri dan Pedagang.” (Ada kisahnya tersendiri).
Jadi arti kalimat di atas adalah :
Maka temannya itu berkata kepadanya: “Wahai saudaraku jangan bersedih, sebab sesungguhnya khianat itu merupakan perbuatan terburuk yang dilakukan oleh manusia, dan bahwa tipu daya dan kelicikan itu tidak membawa kepada kebaikan, bahwa pelakunya selamanya tertipu dan bahwa akibat dari perbuatan aniaya itu hanyalah akan kembali kepada pelakunya. Saya adalah salah satu dari orang-orang yang berbuat tipu muslihat, licik dan curang. Lantas temannya bertanya kepadanya: “Bagaimana kok seperti itu?” Ia pun memberitahu peristiwanya dan menceriterakan kisahnya. Lalu temannya mengatakan kepadanya : Perumpamaanmu tidak lain seperti perumpamaan (antara) pencuri dan pedagang..Bagaimana perumpamaan itu? (Seperti dalam cerita berikut ini)
مثل اللص والتاجر
قال : زعموا أن تاجرا له في منزله خابيتان إحداهما مملوءة حنطة، والأخرى ذهبا. فترقبه بعض اللصوص زمانا، حتى إذا كان بعض الأيام تشاغل التاجر عن المنزل، فتغفله (ترقب غفلته) اللص، ودخل المنزل، وكمن في بعض نواحيه. فلما هم بأخذ الخابية التي فيها الدنانير أخذ التي فيها الحنطة، وظنها التي فيها الذهب، ولم يزل في كد وتعب، حتى أتى بها منزله. فلما فتحها وعلم ما فيها ندم.
قال له الخائن : ما أبعدت المثل، ولا تجاوزت القياس ، وقد اعترفت بذنبي وخطأي عليك، وعزيز عليّ أن يكون هذا كهذا. غير أن النفس الرديئة تأمر بالفحشاء. فقبل الرجل معذرته.

Analisis bahasa:
أن تاجرا له في منزله خابيتان
Kata yang digaris bawah adalah khabar inna , yang berupa jumlah terdiri dari khabar muqaddam dan mubtada’ muakhkhar. Artinya “Bahwa seorang pedagang dia punya dua kantong di rumahnya”.
إحداهما مملوءة حنطة، والأخرى ذهبا
Kata yang digaris bawah di atas adalah tamyiz. Berbeda dengan hal , tamyiz menjelaskan sesuatu hal yang belum jelas berkaitan dengan benda, bukan keadaan, sebagaimana hal. Persamaannya, keduanya menjelaskan sesuatu yang belum jelas. Arti kalimat tersebut : Salah satunya penuh dengan gandum, yang lainnya (penuh dengan) emas”.
فترقبه بعض اللصوص زمانا
Kata yang digaris bawah di atas adalah maf’ul fih atau zaraf, dalam hal ini zaraf zaman sebab memberi keterangan waktu. Jika memberi keterangan tempat, disebut zaraf makan. Arti kalimat tersebut: “Maka sebagian pencuri telah mengintainya beberapa lama”.
حتى إذا كان بعض الأيام تشاغل التاجر عن المنزل
Kata كان pada kalimat di atas tidak memiliki khabar, sebab merupakan كان تام . Artinya: “Sampai suatu saat pada suatu hari pedagang itu punya kesibukan jauh dari rumah.”.
فتغفله (ترقب غفلته) اللص، ودخل المنزل، وكمن في بعض نواحيه.
Kata تغفّل mengikuti wazan تفعّل berasal dari غفل artinya “mencari-cari kelalaian”. Kata المنزل adalah maf’ul bih. Arti kalimat di atas menjadi : Maka pencuri tersebut mencari-cari kelengahan si pedagang, ia masuk rumah dan bersembunyi di salah satu sudutnya”.
فلما همّ بأخذ الخابية التي فيها الدنانير أخذ التي فيها الحنطة
Kata همّ ب artinya bermaksud. Kata أخذ الخابية adalah idlafat al-mashdar ila maf’ulihi Kata أخذ di sini bukan kata kerja ( fi’il) melainkan mashdar (termasuk isim ), sebab terletak sesudah harf jar ب . Sementara kata yang di garis bawah di atas adalah maf’ul bih , berupa isim maushul. Adapun shilath al-maushulnya adalah jumlah yang terletak sesudahnya, yakni فيها الحنطة , maka artinya menjadi:”Ketika dia bermaksud mengambil kantong yang berisi uang dinar, (ternyata) dia mengambil tong yang berisi gandum”.
ظنها التي فيها الذهب
Kata ganti ها adalah maf’ul pertama , sedangkan kata التي adalah maf’ul kedua. Artinya” Ia menyangkanya kantong yang berisi emas.”
لم يزل في كد وتعب، حتى أتى بها منزله
Kata في كد وتعب adalah kabar dari لم يزل (termasuk kelompok إن ) , kata أتى ب artinya “datang dengan atau membawa” sedangkan kata منزله adalah maf’ul bih . Artinya menjadi: “Terus bersusah payah sampai ia membawanya ke rumahnya”
فلما فتحها وعلم ما فيها ندم.
Kata yang digaris bawah di atas adalah maf’ul bih berupa isim maushul. Adapun shilat al-maushulnya adalah syibh jumlah yakni فيها . Artinya menjadi : Ketika ia membuka kantong itu dan tahu apa yang ada di dalamnya, ia menyesal.
قال له الخائن
Kata yang digaris bawah di atas adalah fa’il, jadi arti kalimat tersebut “Orang yang berkhianat itu mengatakan kepadanya”
ما أبعدت المثل، ولا تجاوزت القياس
Kata ما dalam konteks di atas adalah untuk arti nafi, sedangkan kata yang digaris bawah di atas adalah maf’ul bih . Meskipun kalimat tersebut merupakan kalimat berita (jumlah khabariyyah ) tetapi dari konteknya bisa dimaknai sebagai jumlah insyaiyyah. Arti harfiahnya : Engkau tidak menjauhkan perumpamaan dan tidak melebihi analogi” maksudnya “Jangan terlalu jauh membuat perumpamaan dan jangan kelewatan membuat analogi”.
وقد اعترفت بذنبي وخطأي عليك
Harf wawu yang ada pada awal kalimat merupakan wawu haliyyah , sebab kalimat tersebut menjelaskan keadaan fa’il pada kalimat sebelumnya. Harf tersebut sering diartikan “padahal”. Kata اعترف ب artinya “mengakui” , maka kata ذنبي merupakan maf’ul bih , sementara kata خطأي juga ‘athaf kepada kata tersebut. Jadi artinya menjadi “ Padahal aku sudah mengakui dosa dan kesalahan ku padamu” .
عزيز عليّ أن يكون هذا كهذا
Kata أن يكون adalah fa’il mu’awwal dari kata عزيز . Kata ini adalah sifah musyabbahah berwazan فعيل . Sebagaimana fi’il , sifah musyabbahah juga mempunyai fa’il Sedangkan kata كهذا adalah khabar dari يكون . Artinya menjadi: “ Saya merasa berat hati, kalau ini seperti ini”, maksudnya : “Amit-amit kalau perbuatan saya ini disamakan dengan itu.”.
غير أن النفس الرديئة تأمر بالفحشاء
Kata النفس الرديئة adalah tarkib idlafi. Kata رديئة adalah bentuk sifah musyabbahah . Artinya menjadi : “Hanya saja jiwa yang rendah itu menyuruh perbuatan yang keji.”
فقبل الرجل معذرته
Kata yang digarisbawah di atas adalah maf’ul bih. Artinya “Maka orang itu menerima permintaan maafnya”.
Arti teks di atas:
Perumpamaan pencuri dan pedagang
Ia berkata : Konon ada seorang pedagang yang mempunyai dua kantong di rumahnya . Salah satunya penuh dengan gandum, yang lain penuh dengan emas. Beberapa pencuri mengintainya beberapa lama, Sampai pada suatu saat pada suatu hari pedagang itu punya kesibukan jauh dari rumah. Maka pencuri tersebut mencari-cari kelengahan si pedagang, ia masuk rumah dan bersembunyi di salah satu sudutnya. Ketika dia bermaksud mengambil kantong yang berisi uang dinar, (ternyata) dia mengambil kantong yang berisi gandum. Ia menyangkanya kantong yang berisi emas, dengan bersusah payah ia bawa sampai ke rumahnya. Maka ketika ia buka dan tahu apa yang ada di dalamnya barulah menyesal. Orang yang berkhianat itu berkata kepadanya: “Jangan terlalu jauh membuat perumpamaan dan jangan kelewatan membuat analogi, padahal aku sudah mengakui dosa dan kesalahanku padamu. Amit-amit kalau perbuatan saya ini disamakan dengan itu, hanya saja jiwa yang rendah itu menyuruh perbuatan yang keji.” Maka orang itu menerima permintaan maafnya.

Kesimpulan:
Dari contoh anlisis di atas dapat dikatakan bahwa struktur kalimat akan sangat menentukan bacaan I’rab (perubahan pada akhir kata, baik yang berupa harakat atau huruf) dan makna, sebaliknya makna kalimat juga menentukan ketepatan struktur kalimat, khususnya kalimat yang kata-katanya tidak bersyakal. Dengan demikian, makna juga berperan penting dalam penentuan struktur kalimat. Sementara untuk mencari ketepatan makna, terutama kata-kata kerja yang fa’ilnya berupa dlamir mustatir, atau rujukan isim isyarah, sangat bergantung pada konteks . Maka antara konteks –makna dan struktur kalimat sangatlah berkaitan, karena itu antara tiga hal ini perlu dicermati dengan seksama, termasuk di dalamnya juga , teks bahasa Arab yang menggunakan syakal.

4 Balasan ke Bahasa Arab (Struktur Kalimat)

  1. Muhammad Najib mengatakan:

    Ass…mohon menulis artikel tentang problematika penerjemahan teks bahasa arab ke dalam bhs indonesia????

  2. hamba ALLAH mengatakan:

    assalammualaikum…
    apakah saya bisa minta tolong? saya ada tugas dari sekolah membuat struktur osis dalam bahasa arab tapi saya tidak bisa.bisa dipostkan gak ? saya minta tolong banget ini
    wss.

  3. Kang Afif mengatakan:

    Tolong cantumkan refrensinya dari kitab mana anda mengutip keterangan2 yang ada. biar kami pembaca semakin optimis kalau dibuat refrensi nantinya. Syukron

  4. Falah mengatakan:

    Asslm.
    email bpk apa??atau nmr telp bpk brp??
    saya mash bingung mau bhas apa ttg jdul skripsi yang bapak sarankan di mata kul kitabah al bash..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: