Pendidikan Keagamaan (Islam) bagi Penguatan Karakter Bangsa

Pendahuluan:
Akhir-akhir ini masalah karakter bangsa kita banyak dikeluhkan orang, dengan munculnya banyak kasus dalam hampir, untuk tidak mengatakan semua, bidang kehidupan berbangsa. Seakan-akan bangsa Indonesia yang dahulu dikenal dengan bangsa yang ramah, tiba-tiba jadi bangsa pemarah, setidaknya, tingkat kesantunannya menjadi jauh merosot. Boleh jadi, gejala ini lebih terasa karena pesatnya perkembangan teknologi informasi yang serba lebih transparan, dibandingkan dengan masa-masa sebelum ini, sehingga penyimpangan di masa lalu tidak begitu mudah dan cepat disaksikan orang banyak dibandingkan saat sekarang ini.
Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, bahkan Indonesia merupakan negara yang jumlah penduduk muslimnya terbanyak di dunia. Dapat disaksikan oleh siapapun ketika hari Jum’at tiba maka masjid-masjid penuh dengan jama’ah yang mendengarkan khutbah Jum’ah, begitu pula ketika bulan Ramadhan tiba, masjid-masjid penuh dengan jamaah dengan kegiatan yang beraneka ragam, termasuk kajian-kajian dan ceramah keagamaan, baik di radio maupun televisi. Daftar tunggu untuk ibadah haji bisa sampai tiga atau empat tahun. Yang pergi umrah setiap bulan juga tidak sedikit, apalagi bulan Ramadhan. Di lihat dari sisi ini semestinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Akan tetapi kenyataan juga menunjukkan bahwa kejujuran dan sikap amanah merupakan sesuatu yang langka, konflik sosial terjadi di mana-mana, tingkat korupsi amat tinggi di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, begitu pula halnya perbuatan yang merusak lingkungan. Sudah barang tentu, agama Islam tidak mengajarkan hal-hal yang merugikan umat manusia ataupun lingkungan.
Pertanyaannya: apakah umat Islam kurang berperan dalam mengurangi perilaku yang kurang terpuji tersebut, atau justru ikut menjalankannya? Sesungguhnya apa makna semakin maraknya kegiatan ibadah dan pengajian di kalangan umat Islam selama ini? Bagaimana persepsi mereka yang melakukan perbuatan tak islami, selama ini, tentang ajaran Islam? Sejauh mana, sesungguhnya, peran ajaran Islam dalam membentuk karakter pemeluknya? Upaya-upaya apa yang harus dilakukan untuk membumikan ajaran-ajaran Islam yang penuh rahmat bagi pemeluknya dalam kehidupan sosial?
Masalahnya, jika umat Islam memiliki karakter yang berkualitas tinggi, pada akhirnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim juga akan terangkat kualtiasnya pula.
Nilai-nilai agama (Islam) dalam Kehidupan Sosial
Sumber nilai dalam ajaran Islam adalah Alqur’an dan Assunnah. Oleh karena itu, untuk mengetahui ajaran Islam yang berkaitan denga kehidupan sosial kedua sumber itulah yang menjadi rujukan, dan bukan kenyataan kehidupan sosial umat Islam. Sebab boleh jadi, antara keduanya terdapat jurang yang lebar.
Nilai-nilai Islam berkaitan dengan kehidupan sosial sangat banyak, tetapi dari sekian banyak nilai dapat ditarik beberapa prinsip umum yang dapat dijadikan landasan bagi kehidupan sosial sebagai berikut:
1. Prinsip tauhid
Tauhid dimaknai sebagai suatu keyakinan mengesakan Allah, yakni bahwa Allah itu Maha Esa. Atas dasar prinsip ini umat Islam dilarang menyekutukanNya dengan yang lain. Dalam Islam, keimanan tidak cukup berada dalam hati saja, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan nyata yang membuktikan keimanannya itu. Nilai tauhid mendorong seseorang untuk menghambakan diri hanya kepada Allah semata, bukan kepada harta, jabatan atau kepuasan nafsu. Dengan bertauhid, sesungguhnya seseorang telah membebaskan dirinya dari segala penjajahan, baik berupa harta, jabatan atau nafsu kesenangan.
      
(“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu.”( az-Zariyat: 56)
    …….
“Maka apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” al-Jatsiyah : 23)
        ……
“Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama untukNya.” (alBayyinah: 5)
Menghalalkan segala cara demi memperoleh harta, tahta atau wanita adalah sama dengan mempertuhankannya. Bahkan membanggakan keunggulan diri, kehebatan diri, kepandaian diri, semuanya merupakan syirik khofy (penyekutuan terhadap Tuhan secara samar) dan dipandang sebagai suatu perbuatan yang berlawanan dngan prinsip tauhid. Termasuk di dalamnya, mengandalkan pada amal baik dirinya.
Dari prinsip ini juga muncul dorongan kearah persatuan dan menghindari perpecahan.
2. Prinsip maslahah
Agama Islam mengajarkan kepada umatnya bagaimana agar mereka dapat hedup dengan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, segala hal yang baik, bermanfaat bagi manusia merupakan sesuatu yang harus diwujudkan oleh umat Islam. Sebaliknya, segala hal yang tidak baik, yang membawa madharat (merugikan) umat manusia harus ditolak. Prinsip Maslahah artinya prinsip kemanfaatan. Prinsip ini dimaknai sebagai suatu kriteria diterima atau tidaknya sesuatu hal baru yang tidak ada ketentuannya secara kongkrit dalam Alqur’an maupun Assunnah dalam kehidupan masyarakat. Maka segala sesuatu yang membawa kerusakan harus ditolak, sebaliknya segala sesuatu yang membawa kebaikan bagi masyarakat harus diterima. Jika di satu sisi membawa kerusakan tetapi di sisi lain membawa kemanfaatan, maka menolak kerusakan haruslah dikedepankan atau didahulukan. Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil masalih. Maka masalah apapun yang mengakibatkan kerusakan individu, masyarakat, maupun lingkungan haruslah ditolak.
•     
“…Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qasas:77)
Sebaliknya, yang membawa manfaat bagi individu, masyarakat dan lingkungan diterima dengan baik.
3. Prinsip tawassut
Islam mengajarkan jalan tengan dalam banyak hal. Khoirul umur ausatuha.(Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah). Jangan terlalu kikir, tapi juga jangan terlalu boros.
        •    • 
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya.” (Artinya: Jangan terlalu kikir dan jangan pula terlalu pemurah.)(Al-Isra: 29)

Tidak terlalu berani tanpa perhitungan, tapi juga tidak terlalu takut karena banyak perhitungan. Wajar-wajar saja.
4. Tawazun (keseimbangan)
Tawazun adalah keseimbangan dalam segala hal, misalnya dalam hal memperhatikan kepentingan kehidupan dunia dan akhirat; kebutuhan jasmani dan ruhani; antara kareer dan keluarga; serta kepentingan individu dan sosial.
                         •     
“Dan carilah dari apa yang telah dianugerahkan Allah padamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qasas: 77)
5.Tasamuh
Tasamuh adalah sifat toleran di dalam hubungan seseorang dengan yang lain, mudah memberi maaf atas kesalahan yang dilakukan orang lain. Sifat ini penting dalam kehidupan sosial, sebab tanpa prinsip tasamuh maka akan sangat mudah terjadi konflik-konflik yang merugikan hubungan sosial kemasyarakatan.
       
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh .”(al-A’raf:199)
      ……..
“Dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada ketaqwaan ……” (Al-Baqarah 237)

ثلاث من كن فيه حاسبه الله حسابا يسيرا وأدخله الجنة: تعطي من حرمك وتعفو عمن ظلمك وتصل من قطعك. رواه الحاكم عن أبي هريرة
“Ada tiga hal yang barangsiapa memiliki tiga hal tersebut maka Allah akan menghitung amalnya dengan mudah dan memasukkan ke dalam sorga(Nya): memberi orang yang menghalangimu, memaafkan orang yang menganiayamu, dan menyambung persaudaraan terhadap orang yang telah memutuskan tali persaudaraan padamu.” Hadis riwayat Hakim dari Abu Hurairah
Jika sifat-sifat di atas akan disebutkan, barangkali, yang lebih cocok adalah nilai taqwa. Sifat ini dalam Islam dipandang sebagi sifat yang paling mulia. Kemuliaan seseorang di hadapan Tuhannya diukur dari sejauh mana ketaqwaannya.
Konsep-konsep Pembumian Nilai-nilai Keagamaan (Islam) dalam Kehidupan Sosial
Sesungguhnya di dalam rukun Islam yang lima: syahadatain, salat, puasa, zakat dan haji terdapat nilai-nilai kehidupan sosial. Maka pengamalan rukun Islam yang lima dengan baik adalah proses pembumian nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial.
1.Syahadatain
Syahadatain adalah sebuah kesaksian yang diyakini hati, diikrarkan oleh lisan dan diamalkan oleh anggota badan bahwa tidak ada yang wajib disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah. Syahadatain terdiri dari dua kesaksian: yang pertama disebut syahadatut tauhid uang kedua disebut syahadatur rasul. Dalam ajaran Islam, dua hal ini tak bisa dipisahkan. Keduanya merupakan dasar bagi bagian rukun Islam yang lain, dan juga dasar bagi seorang muslim dalam hubungannya dengan pihak lain.
Syahadatain bukan semata kesaksian dalam hati melainkan sesuatu pandangan hidup yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata yang intinya bahwa seluruh aktifitas seorang muslim haruslah mentaati perintah Allah, yang prinsip-prinsipnya telah dijelaskan di muka, dan yang semuanya itu disampaikan oleh Rasulnya, yakni Nabi Muhammad saw serta dicontohkan olehnya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mengulang-ngulang syahadatain dalam setiap azan yang dikumandangkan setiap waktu salat tiba, bahkan dalam setiap salat, baik yang sunnah maupun yang wajib, maka diharapkan agar umat Islam tidak lupa akan kesaksiannya yang harus diimplementasikan dalam hidupnya.
2.Salat
Sesungguhnya di dalam salat terdapat bukan saja nilai-nilai hubungan antara makhluk dengan Sang Khaliq, tetapi juga hubungan antara sesama makhluk (manusia). Umat Islam didorong untuk salat berjamaah. Pahala salat jamaah berlipat ganda dibandingkan dengan salat sendirian. Dalam salat jamaah terdapat ajaran kepemimpinan yang baik. Apa syarat-syarat dan kewajiban pemimpin (imam), dan apa pula kewajiban orang-orang yang dipimpin (makmum).
Dalam setiap salat surah fatihah adalah termasuk yang harus dibaca. Di dalamnya terdapat suatu permohonan untuk mendapat petunjuk ke jalan yang lurus, jalan yang benar. Maka semestinya telah terpatri dalam diri orang yang melakukan salat dengan penuh penghayatan terhadap apa yang dibaca bahwa ia mesti menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar, dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan RasulNya yang prinsip-prinsipnya telah dijelaskan di muka.
3.Puasa Ramadhan
Sepintas, tak ada hubungan antara puasa dan kehidupan sosial karena puasa merupakan ibadah untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan suami istri dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai dengan terbenam matahari. Tetapi, sesungguhnya dalam ibadah puasa juga terkandung nilai-nilai kehidupan sosial, antara lain, merupakan penghayatan nyata terhadap penderitaan orang miskin yang hidup dalam kekurangan. Dengan merasakan langsung seperti apa yang dirasakan oleh saudara-saudara yang kurang beruntung secara ekonomi, diharapkan akan dapat berbuat sesuatu untuk meringankan beban ekonominya.
Dalam puasa juga terdapat nilai ajaran pengawasan melekat. Meski tak ada orang yang melihat, orang puasa meski sangat lapar atau haus tak akan mau makan atau minum sebelum saatnya. Jika puasa ini dibiasakan, bukan hanya di bulan Ramadhan tetapi juga pada hari atau tanggal dan bulan tertentu, maka diharapkan bahwa orang yang berpuasa akan memiliki sistem pengawasan melekat yang mampu mengendalikan dirinya dalam seluruh aktifitas sosialnya, sehingga dapat membawa kemaslahatan bagi masyarakat.
4.Zakat
Sesungguhnya zakat bukan semata-mata berkaitan dengan masalah harta, tetapi juga berkaitan erat dengan akidah. Meskipun seseorang mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada kaum fakir miskin, maka tidak disebut zakat kalau tidak didasari niat zakat karena Allah. Dengan kata lain, meskipun kelihatannya zakat hanya berkaitan dengan masalah sosial ekonomi tetapi sesungguhnya juga berkaitan dengan akidah atau keyakinan bahwa sesungguhnya harta yang ada pada seseorang sesungguhnya merupakan titipan dari Allah. Karena harta tersebut hanyalah titipan maka ketika Pemilik yang sesungguhnya memerintahkan untuk memberikan sebagian dari hartanya, dengan suka rela akan dilaksanakannya. Dengan pengelolaan zakat yang baik diharapkan jurang pemisah dan kecemburuan antara si kaya dan si miskin akan diperkecil, dan kemiskinan akan berkurang. Persoalan zakat di tanah air masih sangat perlu peningkatan dari segala sisi, baik peningkatan kesadaran zakat umat Islam yang cukup besar jumlahnya, maupun pengelolaan zakat secara akuntabel dan transparan yang meyakinkan umat Islam untuk menyerahkan zakatnya.
Masalah zakat di Indonesia ini perlu penanganan yang lebih, guna mengentaskan umat Islam yang mayoritas ini, yang umumnya masih dibawah kemiskinan dari keadaan yang dialaminya kini. Mengentaskan ekonomi umat islam juga berarti mengentaskan mayoritas bangsa Indonesia. Kemiskinan perlu diatasi karena “Hampir-hampir kemiskinan itu membawa kekufuran” bahkan juga bisa membawa ke paham terorisme.

5.Haji
Ibadah haji merupakan ibadah yang menuntut kemampuan harta, untuk biaya perjalanan ke tanah suci dan segala yang berkaitan dengan urusan haji, juga kemampuan fisik agar bisa menjalankan manasik haji yang memerlukan kehadiran fisik. Dan sebagai ibadah, maka ibadah haji tentu harus dilandasi suatu akidah yang benar bahwa apa yang dilakukan itu adalah pelaksanaan dari perintah Allah dengan cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah.
Nilai sosial dari ibadah haji antara lain terdapat pada nilai persamaan umat manusia. Umat Islam dari berbagai bangsa seluruh dunia, ketika berihram memakai pola dan warna pakaian yang sama. Tak ada yang membedakan antara satu dan lainnya di antara mereka kecuali hanya ketaqwaannya kepada Allah. Ketaqwaan ini bukan monopoli suku atau bangsa tertentu, kelas tertentu ataupun kelompok tertentu. Siapapun berhak untuk menjadi orang yang bertaqwa dan hanya Allah saja yang maha Tahu siapa yang paling taqwa di antara hambaNya. Maka orang yang bertaqwa pasti rendah hati sebab ia tidak tahu apakah ia lebih bertaqwa dibandingkan dengan orang yang tampak berada di bawahnya dari sisi apapun.
Dalam haji juga ada pelajaran pentingnya kebersamaan, tolong menolong, kesabaran, ketabahan dalam menghadapi kesulitan, serta toleransi dalam menghadapi perbedaan. Kesemuanya menuju kepada Yang maha Esa, untuk memenuhi panggilanNya guna mendapatkan keridhaanNya.
Strategi Implementasi Pembumian Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Sosial
1.Penguatan pemahaman yang benar
Penguatan pemahaman terhadap ajaran islam yang benar perlu dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam ini amat diperlukan. Sekedar ilustrasi saja: Jika umat Islam di Indonesia sekitar 85%, maka sesungguhnya berapa di antaranya yang mampu membaca Alqur’an? Di antara yang mampu membaca Alqur’an berapa yang tahu artinya? Di antara yang tahu artinya, berapa yang mengamalkannya?
Penguatan pemahaman ini semestinya dilakukan melalui jenjang pendidikan. Maka kurikulum pendidikan agama perlu diperbaiki, baik dari sisi porsi waktu dan strategi penyampaian pendidikan agama, serta kualitas para pendidiknya.
Sesungguhnya masalah agama bukan hanya berkaitan dengan akhirat, bukan pula hanya berkaitan dengan hukum Islam saja, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Islam juga berkaitan dengan ilmu-ilmu kealaman maupun sosial. Maka semestinya ajaran Islam bisa dijelaskan oleh semua bidang keilmuan. Dengan kalat lain, seorang guru muslim semestinya mempelajari bagaimana keterkaitan ilmunya itu dengan ajaran Islam yang juga mencakup masalah dunia dan akhirat. Atas dasar ini, maka porsi waktu pendidikan agama di sekolah umum atau perguruan tinggi umum yang hanya sedikit dapat di atasi dengan cara memasukkan pesan agama (Islam) dalam seluruh mata pelajaran / matakuliah.
2.Uswah hasanah
Uswah hasanah atau suri tauladan yang baik amat penting dalam pembumian nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, perlu ada seleksi yang ketat, terutama dari sisi karakter, bagi siapa saja yang akan menjadi guru, dosen, atau pimpinan umat. Tampilan sosok guru, dosen atau pimpinan masyarakat, secara langsung atau tidak langsung, memiliki kontribusi dalam pembentukan karakter para siswa, mahasiswa ataupun rakyatnya.
Tayangan-tayangan di media cetak ataupun elektronik semestinya menampilkan uswah hasanah. Berita-berita terkait dengan kekerasan sebaiknya tidak ditayangkan secara vulgar, agar tidak menjadi iklan negative bagi publik. Begitu pula iklan yang mengundang sifat konsumerisme perlu dikurangi, sebab hal itu bisa mengakibatkan orang yang tak punya uang harus menghalalkan segala cara untuk mewujudkan impian yang diakibatkan oleh daya tarik iklan. Persoalan muncul ketika terjadi persaingan antara kepentingan ekonomi (iklan yang menggunakan segala cara untuk menarik perhatian public) dengan kepentingan pembentukan moral yang baik. Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh lembaga pendidikan akan mudah gagal ketika lingkungan sosial tidak mendukungnya.
3.Ilmu amali dan amal ilmi
Dapat dikatakan bahwa sesungguhnya banyak orang yang melakukan pelanggaran moral itu sudah tahu bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik. Bahwa korupsi, berjudi, mabuk-mabukan dan sebagainya tidak baik, tetapi pengetahuannya tentang kebaikan itu tidak mempengaruhinya untuk berbuat baik. Di sinilah pentingnya ilmu amaly, yakni bagaimana agar pengetahuan tentang kebaikan itu memang juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari?
Agar ilmu yang telah dipelajari itu diamalkan dalam kehidupan nyata, maka tim pendidik merancang sebuah kegiatan dengan melibatkan peserta didik, agar mereka mendapat pengalaman langsung. Adapun strategi pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai berikut:
Pertama: menentukan programnya, misalnya: program qaryah tayyibah
Kedua: menentukan kriteria-kriteria yang diinginkan menuju terwujudnya program tersebut melalui musyawarah.
Ketiga: membuat kesepakatan (kontrak) tentang apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang harus dilakukan dan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan.
Keempat: pelaksanaan program
Kelima: evaluasi program guna memperbaiki kekurangan-kekurangan dari pelaksanaan di lapangan dalam rangka mendapat pelajaran. Semua harus terbuka, mau menerima kritikan yang membangun.
Program lain yang dapat dilakukan misalnya:
1. Program pembiasaan hal yang baik (at-ta’wid ‘alal hasanat). Sebaliknya, amal yang sudah baik juga harus dilandasi dengan ilmu yang benar. Pelaksanaannya di sekolah, madrasah, pesantren atau perguruan tinggi dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan tetap yang terjadwal, misalnya salat dhuha, tahajjud dan sebagainya. Semua kegiatan harus dijelaskan landasan-landasannya, sehingga pengamalan terhadap suatu aktifitas didasarkan pada ilmu.
2. Program aksi peduli yang dirancang bersama: siswa, santri, mahasiswa dilibatkan secara langsung dalam kegiatan tersebut mulai dari perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.
3. Lebih menitikberatkan amal secara bertahap dan berkesinambungan, dari yang paling sederhana, yang paling memungkinkan dan segera dilakukan secara terus menerus, namun tetap dilakukan evaluasi dari waktu ke waktu.
4.Dakwah bilhal wal hikmah
Guna mewujudkan lima prinsip di muka diperlukan sebuah dakwah yang menggunakan contoh nyata dengan cara yang bijak (bil hal wal hikmah). Membicarakan sesuatu yang muluk-muluk, indah dan ideal seringkali lebih mudah daripada melaksanakannya. Maka berdakwah dengan hanya bicara saja sering kurang dipercaya orang. Di sinilah pentingnya mengamalkan dakwah bilhal wal hikmah (dakwah dengan perbuatan nyata yang penuh kearifan). Orang yang berdakwah harus arif, tanggap terhadap situasi dan kondisi yang dihadapinya dengan menggunakan filosofi Keli ning ora ngeli yakni dapat mengikuti ke mana arus pergi tetapi tanpa terbawa arus.
Pelaksanaan dari lima prinsip diatas sebaiknya dilakukan secara terpadu. Berbagai macam kegiatan positif yang diadakan oleh lembaga pendidikan dilakukan secara terpadu dan sinergis (prinsip tauhid), seimbang, tidak berlebihan (tawassut), penuh toleransi (tasamuh) dengan menghargai pendapat orang lain.
5.Mujadalah bil ahsan
Pembumian nilai-nilai Islam tidak aka sunyi dari berbagai tantangan, mungkin juga cemoohan. Dalam hal demikian, maka strategi yang digunakan adalah mujadalah bil ahsan. Sudah barang tentu, kompetensi ini memerlukan keluasan pengetahun. Oleh karena itu, seorang guru, muballigh, guru atau dosen harus selalu memperluas ilmunya.
Dalam menghadapi berbagai tantangan bagaimana pun kerasnya, kesemuanya itu harus dihadapi dengan kepala dingin, tanpa emosi, dengan hati yang ikhlas dan menggunakan jawaban-jawaban yang masuk akal. Apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati pula.
Penutup:
Pembumian nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial adalah sebuah upaya untuk membentuk karakter yang baik (akhlak yang mulia). Dalam setiap upaya akan ada selalu kemungkinan berhasil atau gagal. Oleh karena itu, segala upaya yang baik tersebut harus selalu diikuti dengan doa. Para ulama di pesantren-pesantren yang berhasil mendidik para santrinya, selalu lekat dengan doa. Sebaliknya, para santri juga selalu mohon didoakan oleh para gurunya. Saling mendoakan timbal balik ini, secra psikologis, akan mendekatkan hubungan keduanya. Kedekatan hubungan batin antara si pendidik dan peserta didik, sudah barang tentu, sangat berarti dalam keberhasilan mencapai tujuan terwujudnya karakter yang baik. Semoga

Yogyakarta, 22 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: